By: Eka Wahyu Cahyaningsih
02 / IX F
Hari masih subuh,tetapi suara takbir sudah berkumandang. Aya terbangun dari tidurnya, ia merasa bahagia menyambut Hari Raya Idul Adha. Aya menirukan suara takbir sambil bersiap-siap ke masjid.
“Aya,capat! Sudah jam 6 nich, nanti kita ketinggalan shalat Id!”,teriak Kak Hanif.
“Ya,kak. Aku udah siap kok.,tinggal sarapan terus kita berangkat.”, jawab Aya.
“Iya,cepat! Kakak tunggu di depan.”, sahut Kak Hanif.
”Oke,kak!”,kata Aya.
Aya segera sarapan,setelah itu dia mengambil air wudlu.
“Ibu, Aya berangkat dulu ya? Assalamu’alaikum...”,kata Aya sambil mencium tangan ibunya.
“Iya,hati-hati di jalan! Wa’alaikumsalam...”,jawab ibu.
Aya berangkat ke masjid dengan kakak dan teman-temannya.
”Sandalku kuletakkan di sini aja,biar nggak hilang.”,batin Aya.
Seusai salat Id, Aya menuju tempat ia meletakkan sandalnya.
”Loh..!!! Kak, sandalku kok tinggal sebelah..??????????”,kata Aya kaget.
”Tadi kamu taruh mana???”,tanya Kak Hanif.
”Di sini.. Eh, itu ada sandal juga tinggal sebelah.. Jangan-jangan sandalku ketukar...?”,kata Aya.
”Buruan kamu cari,keburu orang yang bawa sandal kamu jauh...!”,kata Kak Hanif.
”Aku mau cari pakek apa??? Masa pakek sandal sebelahan gini????”,tanya Aya.
”Udah nggak apa apa... Cepat cari sana..!!!”,kata Kak Hanif.
Aya buru-buru lari nyari sandalnya.
”Aduh..!!!!! Repot juga lari pakek rok panjang.. Apa lagi sambil liyatin sandal orang.. Pasti gue keliyatan konyol... Malunya diriku...”,batin Aya.
Tiba-tiba.... Bruuukkk...Aya nabrak cowok sampai-sampai cowok itu terjerembab ke semak-semak.
”Maaf,mas..? Saya nggak sengaja..”,kata Aya sambil nolongin cowok itu.
”Kamu itu jalan pakek mata nggak sich?????”,kata cowok itu dengan perasaan marah.
”Maaf,mas.. Saya jalan pakek kaki...”,jawab Aya.
” Maksud gue,loe itu kalo jalan liyat sekeliling loe nggak?”,kata cowok itu.
”Saya tadi sedang nyari sandal saya yang dibawa orang.. Jadi,saya jalan sambil nunduk terus..”,jelas Aya. ”Loh,mas. Itu kan sandal saya yang mas pakek..!!!!!!!!”,kata Aya.
”Oohhh.......... Pantas aja dari tadi nggak nyaman banget gue pakek. Ternyata sandalnya nggak kompak....”,kata cowok itu. ”Maaf ya? Saya tadi udah marah-marah sama kamu...”,kata si cowok.
”Iya,mas. Nggak apa-apa kok.. Lagi pula saya yang salah,jalan nggak liyat-liyat..”,sahut Aya.
“Ya,nggak apa-apa. Kalo boleh tau, nama kamu siapa?”,tanya cowok itu.
” Aku Aya, kamu?”,jawab Aya.
”Nama aku Bobby. Oh,iya.. Ini sandal kamu..”,kata Bobby sambil ngembaliin sandal Aya.
”Iya,terima kasih..”,sahut Aya sambil tersenyum.
”Aya,kamu sekolah di mana?”,tanya Bobby.
”Aku sekolah di Zapo,kalo kamu?”,Aya balik tanya.
”Aku juga sekolah di situ. Kamu kelas apa? Kok aku nggak pernah liyat kamu?”,tanya Bobby lagi.
”Aku di kelas IX F,kamu kelas apa?”,jawab Aya.
”Aku kelas IX A. Kamu pulang sama siapa?”,tanya Bobby.
Sebelum Aya sempat menjawab,tiba-tiba datang Kak Hnif.
”Aya, gimana? Udah ketemu belum?”,tanya Kak Hanif.
”Udah,kak. Bobby, kenalin ini kakakku. Kak Hanif ini Bobby.”,kata Aya.
”Kenalkan,nama saya Bobby.”, kata Bobby sambil menjabat tangan Kak Hanif.
”Saya Hanif,kakaknya Aya.”,kata Kak Hanif. ”Aya,kita pulang yuk?”,kata Kak Hanif pada Aya.
”Yuk,kak. Bobby,aku pulang dulu ya?”,kata Aya sambil melempar senyum pada Bobby..
” Iya,sampai ketemu di sekolah.”,jawab Bobby.
”He’eh... Assalamu’alaikum..”,kata Aya.
”Wa’alaikumsalam..”,jawab Bobby sambil tersenyum.
Sejak saat itu, Aya dan Bobby menjadi teman baik. Di sekolah, Bobby terkenal sebagai anak yang nakal dan pemalas. Tetapi sejak kenal dengan Aya,dia berubah 180°.
Pada suatu hari,Aya dan Bobby belajar bersama. Bobby meminta Aya membantunya mengerjakan PR Matematika.
”Aya, tolong jalasin tentang kesebangunan dan kongruen dong?! Aku agak bingung....”,kata Bobby.
Aya menjelaskan secara panjang x lebar = luas. Dia menjelaskannya dengan sabar ketika Bobby belum juga paham.
”Ooo.... Gitu tho??!!! Makasih penjelasannya,sekarang aku ngerti...”,ucap Bobby.
”Oke..oke.. Sama-sama...”,jawab Aya.
”Aya? Aku pengen ngomong sesuatu..”,ucap Bobby terlihat agak serius.
Aya hanya diam tak menjawab,Bobby pun melanjutkan perkataannya.
”Aku suka sama kamu, sejak pertama ketemu kamu,aku terbayang-bayang kamu terus. Sikapmu yang sopan,nggak gampang marah. Bahkan kamu maafin aku waktu aku marah-marah nggak jelas kepadamu.”,kata Bobby.
Aya tetap saja diam tanpa kata.
”Kamu yang membuatkku berusaha berubah menjadi lebih baik, kamu ngasih aku motivasi, kamu yang selalu ada saat aku butuh. Kamu mau nggak jadi pacarku?????”,kata Bobby yang deg-degan menunggu jawaban dari Aya.
Aya terdiam sejenak,dia merenung lalu menjawab.
“Maaf...??? Mungkin lebih baik kita bersahabat saja.”,jawab Aya.
“Kenapa..??”,tanya Bobby dengan rasa kecewa.
” Aku nggak mau gara-gara cinta hubungan kita nanti jadi renggang. Biasanya kan kalo udah putus jadi sungkan terus jadi agak jauh. Jarang yang tetap akrab.”,jelas Aya.
Bobby memikirkan kata-kata Aya.
”Benar juga kata Aya,apa lagi hampir Ujian. Kalo putus menjelang Ujian kan nggak lucu...”,batin Bobby berbicara.
Bobby pun tersenyum pada Aya. Seketika Aya merasa lega,karena sedari tadi dia merasa takut kalau-kalau Bobby marah.
“Baiklah.. Aku hargai keputusanmu dan aku setuju denganmu.. Kita jadi sahabat ya???”,ucap Bobby.
”Iya.. Semoga persahabatan kita langgeng.. Amin..”, jawab Aya sambil tersenyum.
”Amin..”,sahut Bobby yang juga tersenyum.
Semanjak saat itu, mereka menjadi sahabat karib yang saling membantu dan melengkapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar